BEM Universitas
Universitas Muhammadiyah Malang
BEM Universitas
Universitas Muhammadiyah Malang

Home

PREAMBULE

BEM UMM 2016-2017

Presiden Dan Wakil Presiden Mahasiswa UMM

Fais Mirwan Hamid & Nungki Samahah Kurniawati

 

             Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai sejarah perjuangan panjang dalam merebut kemerdekaan. Pergerakan perjuangan leluhur moyang kita untuk selalu berusaha mempertahankan wilayah kesatuan republik ini dengan segenap tumpah darah dan cita-cita besar agar bangsa ini tidak lagi terjajah oleh bangsa asing, inilah bukti nyata sejarah perjuangan panjang para leluhur bangsa. Benar apa yang disampaikan oleh Bung Karno bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki integritas untuk selalu berdikari secara sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Sejarah perjuangan perebutan kemerdekaan dari bangsa asing merupakan bentuk rasa cinta terhadap tanah air sehingga patut untuk diambil pesan-pesan nilai perjuangan yang dilakukan oleh para pendahulu kita semua sebagai bentuk penghormatan perjuangan pergerakan dalam melawan penindasan oleh bangsa asing, “MERDEKA”.

           Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya alam sangat melimpah dari sektor manapun, mulai dari perikanan, kelapa sawit, pertanian, pertambangan, dan lain sebagainya. Tentunya dengan melihat keunggulan Indonesia dari segi bonus geografis maupun demografi kekayaan alam yang melimpah ini tentu seharusnya bisa membawa Indonesia semakin maju dan berkembang bahkan menjadi negara yang mandiri ketika semua ini dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Namun faktanya, keadaan Indonesia saat ini masih terlalu jauh dari harapan-harapan tersebut yang seolah-olah melupakan perjuangan para leluhur bangsa yang telah berusaha memperjuangan kemerdekaan untuk mampu menjadi negara yang besar dan mandiri.

           Secara kuantitas maupun kualitas permasalahan sosial yang terjadi di bangsa ini semakin banyak dan rakyat semakin menderita serta tertindas. Bahkan untuk mendapatkan pelayanan pendidikan, kesehatan, dan jaminan sosial untuk hidup seakan sangat mustahil. Sumber daya manusia (SDM) semakin hari semakin tidak produktif yang melahirkan 7,65 juta orang pengangguran pada tahun 2015 (data: Badan Pusat Statistik, 6/11/2015) seakan-akan menjadikan rakyat Indonesia budak di negeri sendiri. Lantas di mana letak keuntungan memiliki aset-aset sumber daya alam berlimpah di negara ini sehingga dapat memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya agar bisa mempertahankan hajat hidup dalam kemakmuran maupun kerukunan.

            Fenomena ini bukan lagi hal yang tabu untuk diperbincangangkan, bagaimana mungkin bumi Indonesia yang disimbolkan sebagai paru-paru dunia dengan kelimpahan sumber daya alamnya (SDA) tidak mampu memberikan hak hidup seutuhnya kepada rakyatnya sendiri. Ironisnya, yang menikmati kekayaan alam di negeri ini adalah orang asing atau hanya segelintir golongan saja karna memiliki kekuasaan. Sebuah data mengejutkan muncul bahwa perputaran ekonomi Indonesia saat ini masih tergolong pontang-panting. Ekonomi nasional hanya tumbuh 4,71% yang artinya kualitas ekonomi kita masih tidak baik (data: Badan Pusat Statistik, 9/5/2015). Bisa kita telaah bersama keadaan pasar saat ini yang selalu didominasi oleh produk-produk luar negeri dan bangsa Indonesia sendiri menjadi sangat konsumtif padahal sebenarnya bahan mentahan dari produk tersebut berasal dari negeri ini. Sungguh sangat miris karena seharusnya kita mampu menjadi motor pengerak perekonomian, apalagi dengan adanya tantangan baru yaitu hadirnya masyarakat ekonomi asean (MEA) saat ini.

              Negara sebagai the founding people harus memiliki peran besar ketika melihat ketimpangan-ketimpangan semacam ini, sesuai dengan kontrak sosial sebagai dasar terbentuknya negara maka negara harus mampu dan wajib memberikan hak dasar kepada rakyatnya yaitu kebutuhan sandang, pangan, dan papan, maupun menegakan keadilan yang seadil-adilnya untuk rakyatnya sendiri. Filosofi inilah harus selalu dimiliki oleh siapapun yang menjadi bagian dari birokrat pemerintah bahkan nonpemerintah untuk selalu mengontrol setiap kebijakan yang tidak pro-rakyat. Namun lagi-lagi pada kenyataanya semua inipun hanya menjadi semacam wacana sebagai simbol saja, karna tidak ada kesadaran seutuhnya untuk mengaminkan hal tersebut.

               Pentingnya aktor publik sebagai kaum akademis untuk turut hadir dalam menciptakan perubahan untuk mengatasi persoalan yang terjadi di negeri in, tidak lain adalah Mahasiswa, sebagai agent of social and controlyang harus mampu memberikan angin segar kepada bangsa ini. Sebagaimana dulu yang kita ketahui bersama, sejarah gerakan mahasiswa modern mulai tahun 1908 yaitu gerakan Budi Utomo sampai pada puncaknya pada tahun 1998 yang menuntut reformasi dan menghapuskan KKN sehingga kemudian Presiden Soeharto harus turun melepaskan jabatannya sebagai kepala negara. Kita harus terus melanjutkan perjuangan para pendahulu kita tersebut.

               Nafas perjuangan gerakan mahasiswa tidak boleh hilang dan harus ditata kembali kearah yang lebih baik, berintegritas, cerdas intelektual, berjiwa sosial, bermental spritualitas, militan, dan penuh dedikasi. Inilah nilai-nilai dasar perjuangan yang harus selalu dipegang teguh oleh setiap mahasiswa untuk senantiasa mendorong perubahan.

               Catatan sejarah panjang bangsa Indonesia dan gerakan mahasiswa menjadi sumber kekuatan untuk Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang ( Kabinet Hebat ) periode 2016-2017 untuk mampu membuat sejarah baru dalam wujud gerakan pembaharuan demi terwujudnya mahasiswa yang berintelektual dan terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. Sebagai bentuk proses pembelajaran dalam konsepsi miniatur negara, BEM UMM menjadi salah satu lembaga tertinggi dan memiliki lembaga kemahasiswaan dibawahnya yang akan berkonsolidasi dan berkoordinasi demi perbaikan lingkungan akademis maupun lingkungan sosial di UMM sehingga gerakan pembaharuan tersebut dapat terjawab.

Shared: